Sabtu, 28 Juli 2012

Madani Hotel Medan.........
Sumut Perlu Gencarkan Promosi Pariwisata Friday, July 27 2012 16:33 WIB | Beyond Bali |
Medan (Antara Bali) - Pelaku pariwisata di Medan menyatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara perlu lebih intensif mempromosikan beragam potensi wisata di daerah itu ke mancanegara termasuk kawasan Eropa. "Promosi pariwisata Sumatera Utara (Sumut) ke mancanegara hendaknya dilakukan secara intensif dan berkelanjutan," kata General Manager Hotel Madani Medan Dedi Nelson Fachrurrozy di Medan, Jumat. Dia menilai, program promosi pariwisata Sumut ke mancanegara selama ini masih belum maksimal, termasuk ke negara-negara di Eropa. Padahal, kata Dedi, Sumut memiliki banyak objek wisata alam, wisata sejarah serta budaya, dan wisata konvensi yang jika dipromosikan secara intensif dan berkesinambungan akan mampu menarik minat wisatawan asing berlibur ke provinsi itu. Khusus bagi wisatawan asal Eropa, lanjut dia, keberadaan sejumlah bangunan gedung peninggalan pemerintah kolonial Belanda di Sumut diperkirakan akan mampu memberi daya tarik tersendiri.(DWA/T007

Kamis, 21 Juni 2012

“Gulai Paku” Masuk Hotel Berbintang di Medan

Medan, 20/6 (ANTARA) – Makanan khas daerah Pariaman, Sumatera Barat, ketupat gulai pakis atau “gulai paku”, mulai disajikan kepada para tamu di Hotel Madani Medan, salah satu hotel bintang empat di Medan. “Para tamu di hotel kami kini dapat menikmati ketupat “gulai paku” dan “sala bulek”, kata General Manager Hotel Madani, Dedi Nelson Fachrurrozy, di Medan, Rabu. Penyajian makanan khas pesisir Sumatera Barat itu, menurut dia, merupakan bagian dari kebijakan manajemen hotel tersebut untuk memperkenalkan aneka ragaman makanan khas daerah di Sumatera. “Gulai paku” adalah makanan yang cukup populer di Sumatera Barat, terutama di daerah pesisir barat. Gulai ini berbahan dasar daun pakis dengan bumbu santan, lengkuas, cabe rawit hijau, asam kandis, dan kunyit. Gulai paku ini biasa disajikan dengan ketupat. Selain ketupat gulai pakis, pihaknya juga menyajikan makanan khas Pariaman lain, yaitu “sala bulek” atau sala bulat. Untuk membuat gulai pakis dibutuhkan bahan baku, antara lain tepung terigu, ikan atau udang serta kepiting, dan kunyit. Makanan khas Minang ini dibentuk sedemikian rupa menjadi bundar seperti bola pingpong. Sala Bulek, menurut Dedi, juga cocok disajikan bersama ketupat gulai pakis. Dia mengungkapkan, ketupat gulai pakis dan “sala bulek” ternyata banyak mendapat respon dari para tamu hotel bintang empat yang berlokasi di kawasan inti kota Medan itu. “Keberagaman menu makanan khas daerah yang kami sajikan selama ini bertujuan untuk “memanjakan” selera para pengunjung,” ujarnya. Lebih lanjut dia menilai bahwa makanan khas daerah memiliki potensi dan daya tarik tersendiri untuk meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata. “Makanan maupun minuman khas daerah di Indonesia perlu lebih gencar dipromosikan dan dimasukkan dalam paket promosi pariwisata,” ujar dia. Selama ini, menurut Dedi, promosi pariwisata yang berkaitan dengan menu makanan khas daerah masih belum maksimal.***2***(KR-JRD) (T.pso-197/B/S006/S006)

Minggu, 10 Juni 2012

Perjalanan Hidup............Orang Surau Memimpin Manajemen Hotel

Orang Surau Memimpin Manajemen Hotel...... Masa kanak-kanak hingga remaja dijalaninya seperti kebiasaan laki-laki belia di ranah Minang, yang di luar jam sekolah, kesehariannya digembleng kepribadian di surau (mushola). Nilai-nilai Islami yang melekat di dirinya lantas dikolaborasikan dengan kecintaannya pada dunia pariwisata dan perhotelan. Sampai suatu ketika karirnya berjodoh dengan Hotel Madani Medan yang mengusung konsep manajemen Syariah. SEJAK hotel bintang 4 tersebut selesai dibangun dan mulai beroperasi pada Desember 2006 sampai dengan sekarang, dialah general manager-nya atau pimpinan tertinggi manajemen, administrasi, dan operasional hotel yang terletak di Jalan Sisingamangaraja (Simpang Amaliun), nomor 1, Medan itu. Dedi, panggilan kesehariannya, hasil buah pikirannyalah yang men-setting nama, logo, pembangunan, konsep pelayanan dan market, juga komposisi personel Hotel Madani, menjadi satu-satunya hotel di Pulau Sumatera yang mengusung konsep syariah. “Kita ingin mengubah mindset orang yang selama ini yang mengenal hotel ada diskoteknya atau bar yang menyediakan minuman-minuman alkohol. Kami berpikir, bisnis penginapan tak harus selalu dengan cara seperti itu. Awalnya memang ada kekhawatiran, tetapi Islam mengajarkan jangan menyerah untuk usaha yang positif. Setelah dijalankan, Alhamdulillah, respon tamu-tamunya semakin baik,” papar pria kelahiran Limo Kaum, Batusangkar, Sumatera Barat, 25 Maret 1965 itu, kepada MedanBisnis baru-baru ini, di salah satu restoran Hotel Madani. Sebagai GM, Dedi juga bertanggung jawab pada strategi bisnis dan pengembangan keseluruhan sesuai dengan klasifikasi/bintang hotel tersebut. Termasuk pula yang berkaitan dengan misi hotel yaitu harus dapat berpartisipasi dalam pengembangan industri pariwisata di Indonesia, khususnya Medan dan Sumatera Utara. Pariwisata di Kota Medan, menurutnya, kalau ingin berkembang dan memiliki daya tarik, harus ada keseriusan bersinergi antara pemerintah, swasta dan masyarakat. “Tetapi kalau hanya mengandalkan pemerintah, ya begini-begini saja yang kita rasa. Bisnis pariwisata adalah bisnis yang sangat complicated. Ada aspek budayanya, infrastruktur, transportasi, promosi, kenyamanan dan keamanan fasilitas umum, bahkan aspek politik pun termasuk di dalamnya. Lihatlah mengapa di Bali, kayu yang dipotong lalu diukir terus bisa menarik turis? Karena banyak pihak yang mendorong,” urainya lagi. Anak Surau Merantau Bagi orang yang pertama mengenal Dedi, pasti menyangka dia keturunan etnis. Maklum, wajahnya sekilas seperti orang Cina, didukung kulitnya yang putih. Padahal dia asli berdarah suku Minangkabau. Anak sulung dari 5 bersaudara ini lantas mengungkapkan hal ihwal pemberian namanya. Ayahnya, Lam Suhur, dahulu seorang petani ulung yang gemar membaca buku sejarah, salah satunya tentang tokoh Angkatan Laut Inggris, Laksamana Horatio Nelson. Sementara Ibunda Dedi, Rihana, ketika dalam proses melahirkan Dedi, ditangani oleh dokter kandungan bernama dr Dedi. Nama dokter inilah yang kemudian digabung dengan nama belakang tokoh angkatan laut Inggris itu menjadi nama bayi tersebut, Dedi Nelson. “Sebenarnya waktu saya lahir, kakek ingin nama Fachrurrrozy. Maka baru-baru ini saja saya pakai Fachrurrrozy di belakang nama, untuk menghormati kakek,” lanjutnya. Masa kanak-kanak hingga usia remaja dijalaninya sebagaimana kebiasaan laki-laki belia di ranah Minang, yang kesehariannya digembleng di surau (mushola) guna menimba ilmu agama sebagai tuntunan hidup kelak. Tamat dari SMA Negeri 1 Batusangkar, tahun 1984, Dedi mendapat beasiswa dari Yayasan yang dikelola Ibu Nelly Adam Malik untuk melanjutkan kuliah program Diploma III di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Swadaya Medan. Namun syaratnya, setelah tamat kuliah nanti, ia harus mengabdikan diri di kampung halamannya. Sebenarnya Dedi memendam cita-cita ingin menjadi diplomat. “Tertarik jadi diplomat karena saya terinpirasi pada tokoh-tokoh nasional asal Minangkabau seperti Agus Salim, Buya Hamka, dan Mohammad Natsir. Karena itulah saya dalami Bahasa Inggris. Kalau kita mau maju, kunci awal harus menguasai bahasa asing,” ujarnya. Selain bahasa Inggris, dia juga cukup mahir berbahasa Jerman, Belanda, dan Mandarin. Selama kuliah di STBA Swadaya, Dedi juga aktif dalam Resimen Mahasiswa Mahatara Sumatera Utara dan KNPI. Di tengah kesibukan kuliah dan berorganisasi, ia pun masih bisa meluangkan waktu untuk memberi les private Bahasa Inggris kepada anak-anak SMP. Rampung kuliah tahun 1987, seharusnya Dedi kembali ke Sumatera Barat, mengabdikan diri menjadi guru bidang pariwisata. Tetapi dengan terpaksa ia batalkan rencana pulang kampung itu. Alasannya, ingin mencari pengalaman dan memperluas wawasan terlebih dahulu di perantauan. Meski demikan Dedi tetap tahu diri, agar pihak pemberi beasiswa kuliahnya itu tidak kecewa, maka sampai sekarang secara moril Dedi selalu memberikan sumbangsih pemikiran-pemikirannya untuk kemajuan dunia pariwisata Sumatera barat. Jenjang karir Singkat cerita, untuk mengaplikasikan ilmunya, Dedi melamar ke Hotel Polonia. Ternyata hotel itu bukan sedang membuka lowongan kerja melainkan akan menggelar program pelatihan SDM perhotelan. “Pelatihan itu merupakan agenda pilot project bidang perhotelan untuk wilayah Sumatera Utara,” jelasnya. Pelatihan yang diselenggarakan selama 3 bulan dan diikuti ratusan peserta itu adalah proyek kerja sama antara Dinas Pariwisata, Dirjen Departemen Tenaga Kerja, dan Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI). Dedi mengambil kelas pelatihan food and beverage (FB). Tiba saat penyaringan, peserta yang dinyatakan lulus hanya sekitar 20 orang, termasuk Dedi. Bahkan dia meraih sertifikat peserta lulusan terbaik. “Penyerahan sertifikat kelulusan diselenggarakan di Hotel Tiara Medan. Sebagai lulusan terbaik saya lalu diminta berpidato di hadapan para pejabat Dinas Pawisata, Dirjen Depnaker, Ketua PHRI, dan kawan-kawan peserta. Isi pidato saya tentang mengembangkan bisnis pariwisata di Sumatera Utara. Ada kebanggaan tersendiri waktu itu,” paparnya lagi. Di akhir acara tersebut, pihak HRD Hotel Tiara meminta Dedi supaya datang besok ke kantor. Inilah awal lampu hijau karirnya, dia diterima menjadi waiter di Tiara Convention Centre. Seiring waktu berjalan, Dedi aktif mengikuti program training dan seminar-seminar tentang manajemen perhotelan, leadership, dan sebagainya. Dari waiter lantas diangkat menjadi kapten. Ada sekitar 6 tahunan Dedi di Hotel Tiara dengan jabatan terakhir sebelum resign sebagai supervisor. Kota Bukitinggi, Sumatera Barat, pada tahun 1993 menjadi persinggahan karir Dedi selanjutnya. Di kota Jam Gadang itu, dia dipercaya sebagai Duty Manager Hotel Pusako Bukittinggi. Berjalan 2 tahun Dedi bekerja, Hotel Pusako berganti manajemen, dari Aero Wisata ke manajemen Sol Melial. Tahun 1997, Dedi dipercaya sebagai manajer FB hotel hotel bintang 4 tersebut. Di tengah krisis moneter 1998, seorang atasan Dedi yang warga negara asing, merekrutnya ke Pulau Bintan untuk diposisikan sebagai Manajer FB di hotel, vila, dan restoran yang berada dalam satu kawasan mewah di daerah Propinsi Kepulauan Riau itu. Hampir 3 tahunan Dedi di sana. Peluang karir perhotelan kembali menghampiri, ketika pada April 2001, Dedi lulus interview kerja dan langsung ditempatkan di Hotel Grand Angkasa Internastional Medan. Tugasnya sebagai Manajer Operasional FB. Hotel tersebut ternyata baru mulai beroperasi, sehingga Dedi menjadi team pertama yang membuka (opening team) hotel bintang 5 itu. “Restauran, bar, dan ruangan mettingnya saya yang mula-mula men-setting-nya,” ucapnya. Di masa itu, lanjutnya, General Manajer Hotel Grand Angkasa dipegang oleh James Tay, pria etnis lulusan sekolah perhotelan Swiss. “Pak James guru saya, beliau sangat profesional, banyak memberi saya pelajaran-pelajaran penting perhotelan. Sekarang dia konsultan perhotelan di Malaysia, Singapura, dan Thailand,” sambungnya. Terbilang 5 tahunan karirnya didedikasikan di hotel yang terletak di kawasan Jalan Sutomo Medan itu. Hingga suatu hari di tahun 2006, dia ditawarkan bergabung ke Hotel Madani yang ketika itu gedungnya baru rampung dibangun. Yang mengajak Dedi langsung dari owner Hotel Madani yang juga orang Sumatera Barat. Sejak itulah, tampuk General Manager dipercayakan kepada Dedi sampai sekarang. Sosok pehobi renang, fotografi, dan traveling, yang dalam kesehariannya, usai sholat subuh acap melakukan kegiatan angkat barbel dan joging di sekitar rumahnya itu, di akhir perbincangan mengatakan, baginya setiap orang adalah guru. Maksudnya, banyak pelajaran positif yang bisa dipetik dari siapa pun orangnya. Bekerja dengan hati adalah kunci profesionalisme karirnya agar menghasilkan keikhlasan dan kejujuran. Juga selalu bersyukur kepada Tuhan atas semua karunia yang diberikanNya, melandasi hidup suami Furneli Susanti ini.

Sabtu, 05 Mei 2012

......Team...2006...Grand Angkasa Hotel Medan

Rabu, 26 Oktober 2011

Jembatan Hati 2011....Teman teman KU.....

Ketua Bapenas Dalam kunjungan di Madani Hotel Medan

Dukungan Pemerintah Terhadap Investasi Swasta
25/10/2011


Salah satu produk Bappenas yang lahir pada 2011 ini adalah dokumen Rencana Proyek Kerjasama Pemerintah-Swasta 2011 (RPKPS atau PPP Book) yang di dalamnya terdapat 79 proyek KPS. Menurut Deputi Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas, Dr. Ir. Dedy S. Priatna, MSc, dari total 79 mega proyek PPP, baru dua proyek yang sudah mulai berjalan, proyek air minum di Kabupaten Tangerang dan pembangkit listrik tenaga batubara di Jawa Tengah.


Oleh karena itu, dukungan pemerintah terhadap investasi swasta perlu ditingkatkan. Namun, untuk proyek pembangunan jalan tol misalnya, dukungan berupa subsidi operasional dan perpanjangan konsensi tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan dana pemerintah dan jangka waktu menjadi terlalu panjang.


“Dukungan dan jaminan pemerintah selalu menjadi isu yang selalu ingin dikemukakan oleh calon investor. Isu tersebut sangat berpengaruh terhadap keinginan investor berpartisipasi dalam transaksi KPS di Indonesia. Mekanisme viability gap funding masih belum kondusif bagi investor,” ungkap Pak Dedy.


Selain itu, lanjut Pak Dedy, garansi politik (political risk) merupakan hal penting lainnya sebagai jaminan bagi investor untuk menanamkan modalnya di proyek-proyek infrastruktur PPP. “Garansi politik itu tidak ada yang jual. Hal inilah yang sering ditanyakan para investor”, kata Pak Dedy.


Tidak hanya itu, Pak Dedy juga menyinggung masalah revisi Peraturan Presiden (Perpres) No. 13 Tahun 2010 tentang partisipasi swasta dalam pembangunan infrstruktur dengan keluarnya Perpres No. 56 Tahun 2011 untuk memberikan kejelasan tentang prosedur pengadaan, peran pemerintah dalam penyediaan lahan serta kejelasan badan usaha.

(Humas)
Keterbatasan dana hambat infrastruktur
Warta
INDRA WIDYASTUTI
WASPADA ONLINE

(tribunnews.com)
MEDAN - Kurangnya ketersediaan infrastruktur di Indonesia dikarenakan adanya keterbatasan kemampuan pendanaan pemerintah. Saat ini, potensi pendanaan bagi infrastruktur tidak lebih dari 25 persen dari APBN atau hanya 1 persen dari gross domestic product (GDP).

Padahal, untuk mencapai target ketersediaan infrastruktur, minimum pendanaan yang dibutuhkan adalah sekitar lima persen dari GDP. Bila dibandingkan dengan India sudah mencapai 7-8 persen dan China (9-10 persen). Berdasarkan The global Competitiveness Report 2011-2012 yang diterbitkan World Economic Forum, daya saing Indonesia berada di peringkat 46 dari 142 negara yang dinilai. Kondisi ini turun dua tingkat dibanding tahun 2010-2011. Dan infrastruktur merupakan salah satu penyebab turunnya daya saing dan terhambatnya percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan khusus infrastruktur, Indonesia berada di peringkat 90.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida S Alisjahbana, pada Seminar Nasional Diseminasi Produk-produk Perencenaan Kementrian PPN/Bappenas di Hotel Madani Medan, hari ini mengatakan, paradigma baru dalam pembangunan infrastruktur sangat diperlukan yaitu dengan menggunakan skema kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) dalam pembangunan infrastruktur.

Dia menyebutkan, skema KPS sebagai implementasi paradigma 'not business as usual' dalam pembangunan infrastruktur bukan hanya sebagai prasyarat atau precondition investasi, tetapi juga merupakan lahan investasi bagi pihak swasta. "Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah diminta lebih proaktif dan harus melihat program infrastruktur ini sebagai program prioritas strategis sampai tahun 2014," pungkasnya.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI
(dat06/wol/rls)

Minggu, 16 Oktober 2011

Kunjungan BKOW.DKI-Jakarta ke Sumut...Bersama Istri Wakil.Gub.DKI

Hotel Madani, Eksis dengan Prinsip Syariah


Hotel Madani, Eksis dengan Prinsip Syariah

Medan, 9/8 (antarasumut.com)- Persaingan hotel berbintang semakin ketat seiring pesatnya pertumbuhan hotel di Medan, namun Hotel Madani mampu eksis dengan mengedepankan prinsip syariah.

“Harus diakui tingkat persaingan hotel berbintang di Medan makin ketat yang bisa ditandai dari pesatnya pertumbuhan hotel bintang lima, namun dengan pengelolaan hotel dengan konsep syariah, Hotel Madani mampu eksis dan tetap berkembang,” kata General Manager Hotel Madani Dedi Nelson Fachrurrozy kepada antarasumut di Medan, Jumat.

Hotel Madani yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja simpang Jalan Amaliun No 1 Medan tetap menjadi pilihan keluarga yang datang ke daerah ini. Para tamu umumnya berasal dari Riau, Aceh dan banyak juga dari Malaysia. ” Alhamdulillah tingkat hunian (occupation) kamar rata-rata 60 hingga 70 persen setiap hari dengan jumlah kamar yang tersedia sebanyak 173 kamar dan enam ruang untuk meeting room,” katanya.

Menurut dia, hotel Madani selalu menjadi pilihan keluarga untuk menikmati suasana yang nyaman dengan konsep pelayanan hotel yang diatur sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Selain memberikan pelayanan paripurna untuk keluarga yang menginap, lokasi strategis tempat hotel berdiri juga jadi daya tarik tersendiri.

Lingkungan Hotel madani cukup startegis karena terletak tidak jauh dari objek wisata bersejarah peninggalan Sultan Deli yakni Masjid Raya Al Mahsum, Taman Sri Deli dan Istana Maimun.”Objek-objek wisata bersejarah tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki sembari menikmati sajian kuliner khas Medan yang ada di sekitar lingkungan hotel,” katanya.

Tapi terlepas dari semua itu, untuk membuat Hotel Madani tetap menjadi pilihan bagi keluarga adalah bagaimana menciptakan suasana yang nyaman dan bermartabat. “Prinsipnya adalah pelayanan dengan hati,” ujarnya.

Dengan pengelolaan yang mengedepankan prinsip keramahtamahan dan profesional, plus penyediaan menu kuliner khas beraroma lokal, Hotel Madani juga banyak diminati sebagai tempat penyelenggaraan pertemuan berupa rapat-rapat akbar, seperti seminar, lokakarya, atau sejenisnya.

Setiap minggu selalu ada saja instansi atau lembaga pemerintah dari pusat atau daerah yang memanfaatkan ruang pertemuan karena fasilitas pertemuan yang dimiliki hotel ini memadai dan representatif.

Hotel Madani tergolong paling siap menyelenggarakan kegiatan MICE (meeteng, incentive, convention, and exhibition). Tidak heran kalau selalu dipercaya oleh lembaga khususnya instansi pemerintah pusat dan daerah untuk lokasi penyelenggaraan kegiatan pelatihan, pertemuan seminar dan semacamnya.

Untuk menarik minat keluarga, Hotel Madani juga menyediakan paket-paket khusus, seperti Halal Bi Halal Package untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Harga yang ditawarkan untuk paket kamar mulai dari 335.000 per kamar, sedangkan paket buffet mulai dari Rp60.000 per pax dengan minimun 50 pax.

“Kami menyediakan paket-paket menarik lainnya untuk keluarga yang ingin menikmati suasana nyaman di Medan,” kata Dedi.

7 kata "UP" untuk sukses


7 kata "UP" untuk sukses

1. WAKE UP (bangun).
Tdk peduli berapa kali kita gagal, tp jika kita lbh banyak bangun & memulai lagi, kita akan sukses.

2. DRESS UP (berhias).
Kecantikan dr dlm jauh lebih penting drpd sekedar hiasan luar yg sementara. Miliki mentalitas berkelimpahan, hasil dr suatu harga diri & rasa aman yg dalam. Ini akan menghasilkan kesediaan utk berbagi pernghormatan, keuntungan, dan tanggung jawab.

3. SHUT UP (berhenti bicara).
Berhentilah bicara ttg kesuksesan masa lalu, sdh saatnya fokus'kan diri utk kesuksesan masa depan.

4. STAND UP (berdiri).
Berdirilah teguh pd keyakinan awal bahwa kita pasti berhasil.

5. LOOK UP (pandanglah).
Saat peresmian Disney Land, seorg wartawan bertanya pada istri almarhum Walt Disney "bagaimana perasaan bapak kalo lihat impian'nya telah jadi kenyataan dgn dibuka'nya Disney Land ini?" Istri Walt Disney menjawab "Ia telah melihat ini semua terjadi jauh sebelum proyek ini terbentuk". Lihatlah semua impian kita dalam imajinasi kita seakan2 semuanya telah terjadi.

6. REACH UP (Capailah).
Capailah sesuatu yg lebih tinggi dr prestasi sebelumnya krn itu menandakan bahwa kita memang bertumbuh.

7. LIFT UP (Naikkan). Naikkan semua impian kita dlm bentuk doa ucapan syukur seakan2 semua telah terjadi...